Melawan Lupa

“Setiap kita membawa sejarah dari masa lalu, dengan catatan itu kita belajar untuk hidup di masa depan”

Pada satu hari yang panas saya diminta untuk membuat pelatihan pada mahasiswa baru akuntansi tentang teknik mencatat. Sebelum mulai materi, saya ajukan sebuah pertanyaan pendek “Siapakah diantara anda semua yang berpikir bahwa mencatat diary hanya pantas dilakukan oleh seorang perempuan ?” Hampir semua tangan terangkat keatas, tanda setuju.

Begitulah wajah mahasiswa kita secara umum. Mereka malas mencatat. Mereka lebih senang mendengar tuturan dosen dan memelototi powerpoint yang penuh warna indah. Setelah kuliah, mereka akan bertanya siapa yang mencatat dan meminjam catatan teman tersebut untuk di fotokopi.

Mereka lupa Che Guevarra, pejuang gerilya Amerika Latin, selalu mencatat kejadian sehari-hari pada sebuah jurnal. Hassan Al Banna, seorang tokoh pergerakan besar Islam dari Mesir, juga rajin mencatat pengalamannya, kemudian diterbitkan dengan judul Risalah Hassan Al Banna. Apakah Che Guevarra dan Al Banna seorang perempuan? Bukan! Mereka adalah pejuang besar yang gagah berani. Presiden Habibie, SBY dan presiden kita yang pertama Soekarno adalah juga orang-orang yang rajin mencatat.

Oleh karenanya tidak berlebihan kalau Ali bin Abi Thalib 14 abad yang lalu berkata “ikatlah ilmu dengan menuliskannya’. Karena orang adalah tempat salah dan lupa. Ingatan mereka terbatas, maka sangat dianjurkan untuk kita mencatat.

Berpijak dari pengalaman saya, sejak tahun 2003, ketika awal mula saya mengenal blog, saya rajin menuliskan aktivitas sehari-hari saya di situ. Tetapi karena satu dan lain hal saya merasa kegiatan menulis tersebut banyak mudharat daripada manfaatnya. Kemudian saya memutuskan untuk berhenti pada 2007.

Lalu mengapa tahun 2009 saya memutuskan untuk memulainya lagi. Karena ternyata ingatan saya telah digerogoti penyakit lupa. Begitu banyak peristiwa tahun 2008 yang lewat tanpa terdokumentasi. Padahal saya berpikir, pengalaman-pengalaman tersebut akan banyak manfaatnya kalau saya share dengan mahasiswa atau siapaun yang tertarik lewat media internet. Dorongan menulis kembali juga datang setelah saya membaca artikel berjudul “Spiralisasi ilmu pengetahuan” yang ditulis Romi Satria Wahono. Selain itu dorongan menulis juga datang setelah mengikuti pelatihan Jamil Azzaini dari Kubik Leadership tetang energi positif (epos), katanya kalau kita banyak melakukan kebajikan, kebajikan itu akan berubah menjadi energi positif yang pada akhirnya akan kembali kepada kita. Siapa tahu dari tulisan-tulisan singkat ini bisa memberikan inspirasi dan motivasi kepada para mahasiswa sehingga menjadi tabungan energi positif bagi saya.

Oleh karena itu dengan membaca bismillah… saya nyatakan blog ini dibuka (lagi)

Rudy Suryanto

6 comments

  1. siiip pak
    setuju…
    rebi juga lg hobi nulis,,
    nulis hal fiktif dan non fiktif..

    tapi..
    nulis ternyata g segampang kedengaranya,
    but its something interesting,
    especially when succefull finished one story..
    (maap kl ingrris rebi jelek,ne juga lg belajar)

    Like

  2. Ayo terus nulis….lama-lama kita akan terbiasa
    terus latian bahasa Inggris juga…jangan malu klo bahasa inggris kita jelek…wong itu juga bukan bahasa kita kok

    Sukses selalu!

    Like

  3. Wah, mas..aku termasuk salah satu yg kehilangan sharingmu di blog yg dulu🙂. Kadangkala hal yg kt rasa gak berguna justru bermanfaat utk orang lain. Spt puntung rokok tak berharga yg memberi kehidupan bagi si pemulung.. Just my 2 cents🙂

    Like

  4. Iya pak saya juga pingin nulis, supaya bisa transfer knowledge dengan yang laen, tapi hambatan datang manakala setelah nulis kemudian d baca ulang kok G enak. Keliatannya membuat yg baca G dong, padahal saat nulis terlihat sudah runtut dan logis.
    EX: pada saat ngumpul makalah atau tugas2 kuliah yg harus d ketik, B-fore d koempoel d baca lagi.

    Like

  5. Dida…kuncinya adalah latihan, latihan, latihan…
    kata Hernowo, penulis Mengikat Makna, kita bisa memulai dengan membuat dua ruang, satu ruang pribadi untuk menulis apapun semau kita, dan satu lagi ruang publik, yaitu tulisan untuk di baca oleh orang lain. Kata beliau lebih enak klo kita nulis di ruang pribadi dulu, anggapannya ga ada orang yang akan baca. Kemudian di perbaiki dikit demi sedikit, lama-lama akan bagus, dan siap di masukkan ke ruang publik. Hal ini juga berlaku pada saat nulis tugas…

    coba aja!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s