Korupsi dan Audit Investigatif

Oleh Rudy Suryanto, SE.,M.Acc.,Ak

Mengapa kasus korupsi di Indonesia tidak juga surut paska reformasi tahun 1998? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk kita jawab. Banyak pihak berharap perubahan sistem politik paska kekuasaan Soeharto akan berdampak pada menurunnya tindak korupsi di Indonesia. Namun sayangnya harapan tersebut tidak sepenuhnya tercapai. Memang ada tren positif dalam hal peningkatan indeks transparansi dari 2.2 pada tahun 1998 menjadi 2.8 pada tahun 2009. Namun peningkatan tersebut belum cukup untuk menjadikan Indonesia keluar dari kategori negara dengan tingkat korupsi tinggi.

Sungguh ironis, kasus-kasus besar korupsi di Indonesia lewat begitu saja. Ramai dibicarakan di koran atau hangat didiskusikan di televisi, tapi diputus bebas di pengadilan. Sepertinya lebih mudah memperkarakan orang yang berkeluh kesah di internet daripada memperkarakan orang yang jelas-jelas berencanan menyuap aparat pemerintah. Lebih mudah menjebloskan seseorang gara-gara mencuri tiga biji coklat, daripada memenjarakan koruptor yang membawa lari uang triliunan rupiah. Tengok kasus nenek Minah, rekaman Anggodo, skandal Bank Century dll.

Ketika kasus demi kasus korupsi muncul, siapa yang patut disalahkan? Tentu saja kita harus menyalahkan dan menghukum para pelaku korupsi dan kroni-kroninya. Namun membuktikan tindak pidana korupsi ternyata bukan perkara mudah. Berbeda dengan aturan di negara lain yang mensyaratkan pembuktian terbalik untuk para pejabat yang terindikasi korupsi, di negara kita aparat harus memeras keringat dan pikiran untuk mencari bukti tindak korupsi. Akibatnya penegakan hukum untuk kasus korupsi di Indonesia seolah berjalan di tempat. Beberapa tahun terakhir ini nampaknya hanya KPK yang getol memenjarakan para koruptor.

Salah satu aspek keberhasilan KPK adalah penggunaan teknik audit investigatif. Teknik ini sebenarnya tidaklah baru. Kejaksaan, Kepolisian, BPK dan BPKP sedikit banyak telah menggunakan teknik ini. Namun kewenangan KPK yang mencakup penyelidikan, penyidikan sampai ke penuntutan membuat KPK sangat leluasa dalam menggunakan teknik-teknik audit investigatif. Teknik tersebut antara lain penyamaran, penguntitan, penyadapan, interograsi, penelusuran transaksi perbankan adalah beberapa dari teknik yang tidak kita temukan dalam audit umum. Audit investigatif memang menggabungkan teknik-teknik pemeriksaan keuangan dengan teknik-teknik investigatif yang biasa digunakan oleh polisi atau detektif.

Selain teknik yang berbeda, untuk dapat melakukan audit investigatif diperlukan sikap mental yang berbeda pula. Sikap mental yang perlu dimiliki tersebut antara lain tidak mudah menyerah, tidak gentar oleh ancaman, tidak mudah terpengaruh oleh ajakan, himbauan, tekanan dan rayuan tersangka, tidak cepat puas dan mampu berpikir layaknya seorang pencuri. Seorang auditor investigatif harus pandai membaca pola-pola yang acak, mampu membaca motif, mampu menerjemahkan petunjuk-petunjuk kecil dan memburu petunjuk yang ada layaknya seekor singa memburu mangsanya.

Layaknya seorang pemburu, seorang auditor investigatif harus mengetahui segala seluk belum tindak korupsi. Korupsi dilakukan dengan banyak cara dan semakin canggih. Secara garis besar ada tiga fenomena umum korupsi yaitu penyuapan (bribery), pemerasan (extortion) dan nepotisme (nepotism). Joseph T Wells, bapak audit investigatif, menambahkan lagi dua fenomena yaitu konflik kepentingan dan gratifikasi (hadiah). Tindak korupsi seperti layaknya gunung es. Seringkali kita hanya melihat sepucuk kecil di permukaan, dan tidak bisa menjangkau sampai ke dasar. Sesuai pendapat Lord Acton, bahwa kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan absolut pastilah korup. Artinya korupsi dilakukan oleh pihak-pihak yang berkuasa, sehingga mereka akan menutupi aksinya tersebut dan mempertahankan posisi sekuat tenaga. Para pelaku biasanya juga sudah berpengalaman dalam melakukan tindak korupsi dan seringkali dilakukan dengan berjamaah. Sehingga upaya untuk membongkar dan membuktikan aksi mereka membutuhkan upaya yang luar biasa.

Selain dihadapkan pada tembok kekuasaan, tantangan lain seorang auditor invetigatif adalah harus benar-benar memahami sistem hukum Indonesia. Tidak sembarang bukti dapat diterima di pengadilan. Alih-alih pihak yang kita selidiki bisa menuntut balik kepada kita, jika kita salah prosedur. Bukti yang diajukan ke pengadilan harus relevan dan kompeten. Relevan artinya bisa digunakan untuk membuktikan sesuatu telah terjadi. Kompeten artinya diperoleh dengan cara yang dibenarkan oleh hukum dan otentik. Bukti tersebut juga harus bisa membuktikan bahwa unsur-unsur tindak pidana telah terjadi. Unsur tersebut antara lain merugikan keuangan negara, memperkaya pribadi, unsur pelanggaran kewenangan dan menerima imbalan dari pihak lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Paling tidak butuh dua alat bukti untuk bisa membawa suatu kasus korupsi ke pengadilan.

Semakin banyak koruptor yang bisa dipenjarakan akan membuat efek jera bagi para pelaku dan menghalangi orang untuk melakukan tindakan tersebut. Apa artinya uang 1 miliar atau 1 triliun bagi seseorang jika orang tersebut dihukum seumur hidup atau dihukum mati. Hal ini sejalan dengan strategi pemberantasan korupsi yang sukses diterapkan di berbagai negara. Tengok Cina yang berhasil menurunkan tingkat korupsi secara signifikan dengan menembak mati para koruptor di alun-alun. Tentu saja strategi ini harus diiringi dengan langkah-langkah lain, seperti peningkatan pendapatan pegawai negeri, pembenahan sistem administrasi dan keuangan, serta peningkatan kesadaran anti korupsi lewat pendidikan dan kebudayaan.

3 comments

  1. waah, dapat referensi lagi ni tentang audit investigatif. blog bapak sangat memberikan manfaat buat saya, terutama pembahasan ini sangat diperlukan sekali bagi saya..

    terima kasih atas artikelnya,,
    tetap menulis yaa pak..
    saya akan jadi pembaca tetap blog bapak..

    Like

  2. postingannya bagus pak,, ada lagi ga pak yang berkaitan dengan audit investigatif, khususnya tentang teknik-teknik audit investigatif..

    ditunggu niyh pak….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s