Manajemen Masjid (2) Membangun Mimpi dan Kepercayaan

Apabila ditanya apa kunci sukses dibalik Angkatan Muda Masjid At-Taqwa, sehingga dengan kemampuan terbatas awalnya, bisa memiliki banyak kegiatan, membeli perlengkapan computer, memiliki kas melimpah dan jaringan kerjasama yang luas?  Jawabannya mungkin tidak sederhana, karena banyak unsur terkait disitu, tetapi ada satu jawaban pasti, yaitu karena kami memiliki mimpi, bukan sekedar mimpi, tetapi MIMPI YANG BESAR.

Saya masih ingat, malam ketika pemilihan ketua RISMA selesai, saya bersama mas Amri Harjanto, waktu itu kemudian ngobrol-ngobrol sampai larut malam. Kaki serasa menjejak awang-awang, karena sebelumnya kami tidak pernah mendapatkan tanggungjawab yang sebegitu besar. Pertanyaan besar di benak kami, adalah apa yang harus kami lakukan? Mas Amri Harjanto, relatih lebih familiar dengan lingkungan masjid At-Taqwa, sehingga dengan runtut dan detil bisa menceritakan segala hal-ihwal terkait dengan masjid At-Taqwa. Dari cerita singkat tersebut secara umum bisa didapatkan peta, tentang personil-personil kunci, kendala-kendala yang selama ini terjadi dan ekspektasi masyarakat dan takmir terhadap RISMA At-Taqwa.

Banyak orang berharap RISMA At-Taqwa mampu menjadi tulang punggung kegiatan masjid. Pada awal kunjungan kami ke ketua Takmir, untuk perkenalan, kami langsung mendapatkan complain. Beliau menceritakan, pernah suatu ketika harus adzan sendiri, iqamat sendiri, dan menjadi imam dalam salah satu shalat berjamaah di Masjid. Terus pemuda dan remaja masjid pada kemana??”. Berawal dari situ kami bisa menyimpulkan bahwa takmir berharap RISMA bisa berkontribusi besar terhadap kemakmuran masjid. Masjid kami yang besar, memang waktu itu tidak selalu ramai dalam kesehariannya. Hanya pada waktu bulan Ramadhan dan sholat Jum’at Masjid AT-Taqwa Ramai dikunjungi orang. Sehingga muncul impian besar, dalam bayangan kami masjid At-Taqwa ramai dengan jamaah pada setiap  jamaah sholat lima waktu, pada pengajian-pengajian, bakti social, acara hiburan Islami, pertandingan olahraga, pendidikan  TPA, dan kegiatan positif lainnya. Sehingga sebagai tujuan pertama dan utama kami mencanangkan bahwa misi RISMA At_Taqwa adalah MEMAKMURKAN MASJID, artinya dalam setiap langkah gerak kami harus selalu berujung pada upaya untuk menjadikan Masjid sebagai pusat kegiatan.

Impian besar tersebut, seolah impian di tengah siang bolong. Apabila menilik keadaan waktu itu tentu banyak orang yang mencibir. Pada beberapa sesi diskusi kami dengan salah satu tokoh pemuda Masjid, beliau menyatakan paling tidak akan butuh 10 tahun, sehingga rencana-rencana dan impian kami tersebut terwujud. Nada-nada sinis juga sering dialamatkan kepada kami, mulai dari tanggapan jangan berpikir muluk-muluk, “santai saja”, bisa berjalan saja sudah baik sampai bahwa kami harus memperhatikan kemampuan anggota kami, dan jangan terlalu memaksakan. Namun kami justru makin bersemangat, dengan berbagai tanggapan tersebut.

Kami sadar bahwa impian tanpa rencana hanya akan sia-sia. Kami berpikir keras bagaimana strategi untuk mewujudkan impian kami untuk menjadikan Masjid At-Taqwa sebagai pusat kegiatan, bukan hanya kegiatan ibadah wajib, tetapi juga kegiatan-kegiatan positif lainnya. Pada awal sempat kami melontarkan kritik keras atas usaha takmir untuk terus menerus memperindah masjid daripada mengalokasikan dana untuk kegiatan social, kami berpikir jangan-jangan masjid nantinya jadi kayak museum, yang indah dipandang, dikunjungi diwaktu-waktu tertentu tetapi tidak memberikan manfaat langsung ke masyarakat. Namun kami sadar, mempermasalahkan hal tersebut tidak akan membawa manfaat apapun. Justru kami kemudian bertekad, biar jasa takmir dalam membangun masjid yang megah dan indah tidak sia-sia, kami akan berusaha keras bagaimana mengisinya, mengisi masjid dengan kegiatan-kegiatan yang positif.

Setelah melakukan analisa sederhana tentang kondisi social masyarakat dan kondisi internal di masjid, ada beberapa temuan menarik pada waktu itu yang bisa menjelaskan kenapa masjid kegiatannya tidak maju. Pertama ada ketidakkompakan didalam pengurus RISMA dan ketidakkompakkan antara RISMA dengan Takmir Masjid, Kedua, ada kesenjangan yang nyata antara masjid dengan masyarakat. Berangkat dari dua kesimpulan tersebut, kami merumuskan dua strategi umum untuk memakmurkan masjid yaitu MENINGKATKAN UKHUWAH ISLAMIYAH dan MENINGKATKAN PERAN SOSIAL MASJID. Kami percaya bahwa tanpa adanya kekompakan dan semangat persaudaran di dalam internal masjid maka sulit untuk mencapai kemajuan bersama, dan tanpa adanya hubungan yang baik dengan masyarakat maka kegiatan-kegiatan juga akan kurang optimal.

Kami mencoba merumuskan ketiga tujuan dan strategi tersebut dalam Visi Misi RISMA At-Taqwa, sederhana dan mudah dipahami. Sosialisasi mulai dilakukan dengan menuliskannya di berbagai media yang ada dan member penjelasan yang singkat dalam rapat-rapat dan sambutan-sambutan. Tanpa pernah kami kira, tantangan awal dari konsep tersebut justru datang dari pengurus teras RISMA At-Taqwa, banyak yang berpikir bahwa tujuan tersebut tidak lain hanya slogan semata, jadi mereka berpikir bahwa tidak akan bertahan lama dan segera akan dilupakan orang. Kami kemudian sadar bahwa hal yang tersulit adalah masalah internalisasi tujuan tersebut, bukan pada perumusan tujuan.

Kemudian muncullah episode paling berat dari kepengurusan yang masih baru itu dan diisi oleh orang-orang muda yang baru belajar organisasi. Secara umum bisa dibagi menjadi dua kalangan, yaitu kalangan yang bersemangat untuk mewujudkan mimpi besar dan kalangan yang ingin RISMA berjalan apa adanya mencontoh kegiatan-kegiatan yang sudah-sudah. Lambat laun, gesekan dan perpecahan pun terjadi. Awal kepengurusan yang penuh persahabatan dan kehanggatan mulai berangsur-angsur luntur, dan mulailaih dengan perdebatan demi perdebatan, dan saling diam. Penyelesaian masalah ini akan kami tulis dalam Manajemen Sumber Daya Masjid, pada seri tulisan berikutnya.

Kondisi ini tentu sangat merugikan bagi RISMA At_Taqwa. Kendala lain adalah belum dikenalnya institusi dan kepengurusan RISMA At-Taqwa, bahkan di mata para takmir. Ada satu insiden yang semoga tidak pernah terulang di masa depan, yaitu ketika dalam rapat takmir, takmir memberikan tugas untuk membantu pelaksanaan pengajian, maksudnya ke RISMA tetapi yang diberi amanat adalah satu tokoh pemuda dari kepengurusan terdahulu, bukan ketua RISMA. Lewat diskusi di pengurus RISMA diputuskan bahwa permintaan tersebut adalah permintaan pribadi, jadi pengurus dan anggota RISMA tidak berkewajiban untuk membantu. Bisa dipastikan pelaksanaan pengajian tersebut akan kacau, tetapi Alhamdulillah pada saat yang tepat, ketua Takmir sadar akan kekhilafannya dan meluruskan duduk masalahnya. Insiden lain adalah ketika pada saat bersamaan dengan pengajian rutin RISMA, kita diundang untuk ikut rapat takmir. Kita sudah mengajukan keberatan untuk waktu rapat tersebut dan usul untuk dijadwal ulang, tetapi salah seorang ketua takmir bilang bahwa “apa semua ya ikut kegiatan, kalau ketua tidak bisa khan bisa diwakilkan”. Pada hari H seluruh pengurus dan anggota RISMA kompak ikut kegiatan, dan tidak ada yang datang ke acara takmir. Sejak saat itu takmir mulai melihat keseriusan dan kekompakan RISMA At-Taqwa dalam berorganisasi, sehingga mulai percaya. RISMA At-Taqwa kemudian diberi amanat untuk menjadi panitia untuk segala kegiatan rutin masjid mulai dari pengajian rutin, peringatan hari besar, panitia ramadhan dan Idul Qurban. Kami belajar bahwa dengan bersikan tegas, tanpa ewuh pekhewuh, mendudukan sesuatu sesuai porsinya maka eksistensi kami akan diakui dan dihargai.

Takmir,kemudian merasa bahwa RISMA At_Taqwa bisa diberi tanggung jawab. Bahkan pengelolaan infaq sholat Jum’at, sholat tarawih dipercayakan kepada RISMA At-Taqwa. Konsekuensinya kami berusaha sepenuhnya untuk menjaga kepercayaan tersebut dengan memberikan laporan yang akurat dan transparan. Ada satu episode dimana kepercayaan tersebut harus kami pertaruhkan, yaitu ketika infaq tarawih yang kami simpan di lemari masjid hilang dicuri orang. Ada dua pilihan pada waktu itu yaitu mengganti dengan uang kas RISMA At-Taqwa dan tidak melaporkan kepada takmir, atau melaporkan ke takmir dengan konsekuensi dimarahi karena kami bertindak ceroboh. Setelah sempat tarik ulur diantara pengurus, kami memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut ke takmir dan mengganti dari kas RISMA sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Pada pengajian rutin takmir setiap malam Jum’at kami melaporkan kejadian tersebut, dan sesuai perkiraan kami, kami dimarahi. Namun kami sadar apabila kami menyembunyikan kejadian tersebut berarti kami tidak jujur. Diluar perkiraan kami, setelah dimarahi habis-habisan takmir berkeputusan uang tersebut tidak perlu diganti dari RISMA tetapi akan diganti dari takmir. Selanjutnya kami selalu diberi waktu di pengajian rutin takmir untuk melaporkan perkembangan masalah-masalah di masjid dan masalah di RISMA. Masukan-masukan kami tentang kondisi tempat wudhlu, keamanan masjid, tempat parkir dan lain-lain kemudian direspon dan ditindaklanjuti oleh takmir. Setelah melewati masa awal-awal yang sulit dengan takmir, kami kemudian menikmati hubungan yang sangat akrab seperti layaknya bapak dengan anak. Selanjutnya kami tidak pernah kesulitan dalam meminta dana dari takmir, termasuk ketika minta dibelikan komputer yang cukup mahal harganya pada waktu itu. Justru takmir malah berinisiatif untuk sekalian membelikan printer. Konsekuensinya untuk setiap acara di masjid, kami yang bertugas untuk mencetak undangan dan mengedarkannya ke masyarakat.

Setelah perencanaan strategis dibuat dan kepercayaan takmir didapat, tantangan selanjutnya adalah merancang struktur organisasi dan membina sumberdaya manusia yang ada untuk menggerakkan roda organisasi demi tercapainya tujuan masjid. Insya Allah akan kami tulis dalam seri tulisan berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s