Hasil Konggres IAI ke XI Jakarta 8-10 Desember 2010

Seperti kita ketahui bersama IAI telah melaksanakan Konggress ke 11 pada Hari Jum’at tanggal 10 December 2010. Sebelumnya dari tanggal 8 dan 9 ada serangkalian keynote speech dan panel untuk membahas berbagai isu terkini akuntansi. Beberapa hasil penting konggress dan isu-isu penting yang dibahas adalah sebagai berikut:

  1. Telah terpilih Prof Mardiasmo (Dosen UGM/Kepala BPKP) sebagai Ketua Dewan Pengurus Nasional (DPN) IAI untuk periode 2010 – 2014
  2. IAI akan menjadi organisasi payung bagi asosiasi-asosiasi akuntan dibawahnya. Saat ini telah terbentuk IAPI (asosiasi akuntan publik) dan IAMI (asosiasi akuntan manajemen), menyusul adalah perubahan Kompartemen Akuntan Pendidik (IAI KAPD) dan Kompartemen Sektor Publik (IAI KASP) untuk menjadi asosiasi yang independen dan berada di payung IAI.
  3. Isu yang mengemuka dalam konggress adalah peran akuntan dalam pembangunan nasional dan isu perubahan kepemimpinan dari kaum tua ke kaum muda.
  4. Untuk peran akuntan dalam pembangunan nasional, saat ini dirasakan sangat memprihatinkan, karena sedikitnya akuntan yang tampil di pentas nasional.
  5. Keberadaan akuntan pun sangat minim diketahui oleh masyarakat, terlihat tidak pahamnya masyarakat akan IAI, tidak merasakan adanya kontribusi dari akuntan, tidak peduli dengan isu konvergensi ke IFRS, sehingga ketika AKuntan keberatan terhadap RUU Akuntan Publik, seolah akuntan berteriak sendirian.
  6. Selain itu ada beberapa tantangan kedepan
  1. Kita menghadapi Generation Y (saat ini umur 16-25) dengan kharakteristik suka tantangan, mudah bosan, kreatif, sangat lekat dengan teknologi, suka membuat kejutan. Kalau akuntansi masih dipersepsikan sebagai disiplin ilmu yang kaku, membosankan dan kurang menantang, maka kita akan kehilangan orang-orang terbaik dari Generation Y.
  2. Globalisasi akan terus bergerak, melahirkan inovasi-inovasi baru, pasar-pasar baru dan kekuatan ekonomi baru. Indonesia diramalkan menjadi kekuatan No 5 terbesar di tahun 2050. Kekuatan ekonomi tersebut tentu perlu ditopang oleh akuntan-akuntan yang handal.
  3. Akuntan tidak bisa hidup dalam topangan legalitas yang tidak jelas. Nasib akuntan akan sangat terpengaruh isi dari RUU Akutan Publik, dan yang saat ini tengah digodok adalah RUU Pelaporan Keuangan. Misalkan ada aturan bahwa Direktur Keuangan yang menandatangani laporan keuangan haruslah anggota IAI atau bergelar Akuntan, maka peran akuntan akan semakin menonjol.
  4. Kharakteristik akuntan di masa depan bukan hanya yang memiliki technical skills yang tinggi, tetapi juga memiliki Leadership dan Ethics yang tinggi. Leadership diperlukan karena akuntan selalu memegang peran sentral ketika ada perubahan dalam organisasi perusahaan. Ethics menjadi penting, karena betapun ketatnya peraturan tetapi selalu ada celah untuk terjadi fraud.
  5. Akuntan tidak bisa menghindari kecenderungan untuk memasukkan faktor non financial dalam laporan keuangan seperti model Sustainable Report, Triple Bottom Line (saat ini bergerak menuju Quadruple Bottom Line – Profit, People, Plannet plus Climate Change ), Green Accounting dll
  6. Akan ada kecenderungan dua standar berlaku dalam satu negara, Standar Besar (berbasis IFRS) dan Standar Kecil (berbasis SME/ETAP/Private Companies) Plus PSAK Syariah.
  7. Mengikuti Konvergensi ke IFRS, tren ini akan diikuti Konvergensi Standar Pengauditan (mengikuti ISA), dan Standar Pendidikan Profesional AKuntan (mengikuti IES)
  8. Tren Pendidikan Profesi akan terus menguat karena beberapa instansi pemerintah mulai mensyaratkan gelar Ak.

7. (AK) PSAK ETAP diperkirakan akan menjadi sangat populer paska implementasi di tahun 2011. Perusahaan yang tidak disyaratkan secara khusus memakai PSAK Besar boleh memakai ETAP. Untuk itu BI sudah memutuskan bahwa BPR wajib memakai ETAP. Perusahaan yang jelas-jelas harus memakai PSAK Besar adalah Perusahaan Go Publik, yang diindonesia hanya 350 perusahaan dan perusahaan afiliasi asing (karena disyaratkan kantor pusat). Artinya sebagaian besar perusahaan tidak wajib memakai PSAK Besar. Tetapi diharapkan perusahaan-perusahaan yang telah memakai PSAK BEsar tidak ber migrasi ke PSAK ETAP dan tetap melakukan konvergensi ke IFRS.

8. (AK) Ada masalah yang sangat serius dalam upaya penerapan PSAK 50/55 di Perbankan. PSAK 50/55 adalah salah satu PSAK hasil konvergensi ke IFRS. Bank Mandiri pun, menurut Dirut Bank Mandiri, saat ini belum siap melakuan konvergensi, karena belum bisa di sistemkan, sehingga masih dilakukan manual, dan perbedaan intepretasi yang sangat besar, contoh pencadangan aktiva tidak produktif dan pencadangan kredit macet, dengan memakai standar lama dan standar baru terlihat sangat besar perbedaaan. Bahkan diantara staff bank mandiri pun terjadi perbedaan ketika menghitung hal yang sama dengan menggunakan metode baru tersebut.

9. (AP) Ada Wacana untuk membuat USAP (Ujian Sertifikasi Akuntan Publik) untuk klien-klien yang menggunakan PSAK ETAP dengan model Brevet (Pendidikan) bukan melalui tes. Hal ini dikarenakan saat ini ada kurang lebih 2 juta UKM yang memakai ETAP dan tidak mendapatkan jasa audit, karena terbatasnya jumlah akuntan publik.

10. (AP) Saat ini kurang lebih ada 900 an Kantor AKuntan Publik yang terdaftar. Jumlah klien yang terlayani ada kurang lebih 16.000 perusahaan atau unit usaha. Dari segi value/nilai kontrak audit 80% dikuasai oleh Kantor yang berafiliasi dengan Big 4.

11. (ASP) Saat ini telah diberlakukan Sistem Pengendalian Internal untuk Sektor Publik (APIP) yang mengacu pada konsep COSO dan INTOSAI. Strategi yang diambil oleh BPKP untuk menguatkan pengendalian internal adalah lebih mengedepankan pada soft control (lingkungan pengendalian) daripada hard control (aktivitas pengendalian, pengawasan dll). Linkungan pengendalian yang kondusif untuk terjadinya proses akuntansi yang transparan dan akuntable adalah leadership yang kuat dan sistem remunerasi yang layak dan adil.

12. (AM) Green accounting akan menjadi populer di tahun-tahun mendatang. Green accounting adalah upaya untuk melakukan kuantifikasi dan mencatat potensi terjadinya kerugian yang ditanggung oleh perusahan karena masalah lingkungan. Selanjutnya perusahaan akan melakuan life cycle analysis (proses produksi) untuk bisa mengidentifikasi resiko-resiko yang mungkin timbul terkait masalah lingkungan.

Demikian point-point yang bisa saya catat dari Kongress IAI ke IX, terlampir adalah beberapa materi dari pembicara. Terimakasih atas perhatiannya, apabila ada waktu nanti saya akan coba salin beberapa catatan saya selama konggress

Rudy Suryanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s