Mengelola secara sistemik atau personal?

Pendekatan sistemik vs personal dalam mengelola perusahaan lebih baik mana? Apabila kita membaca literatur populer atau pembahasan di media masa, saat ini ada sebuah trend agar perusahaan memberikan fleksibilitas yang lebih besar kepada karyawan. Karyawan sebaiknya boleh bekerja dari rumah, menseting pola kerja sendiri dan dievaluasi berdasarkan output.

Pimpinan diharapkan bisa lebih memahami kharakter bawahannya dan berperan sebagai mentor. Hal ini tentu sangat berubah dari model pengelolaan perusahaan jaman dahulu.

Tetapi pertanyaannya apakah betul perusahaan akan jadi lebih efektif apabila dikelola dengan pendekatan yang lebih personal?

Hal yang tidak dibahas dalam literatur ataupun tulisan di media tersebut adalah bahwa perusahaan bisa memberikan fleksibilitas lebih besar kepada karyawan ketika perusahaan telah memiliki tujuan yang jelas, target telah diturunkan sampai ke target individu, mekanisme reward & punishment jelas, artinya pendekatan diatas baru bisa dilakukan ketika perusahaan telah memiliki system yang kuat.

Coba anda beri kebebasan kepada karyawan anda, di sisi lain tujuan dan target perusahaan anda belum di definisikan secara jelas, maka yang anda dapatkan adalah kekacuan.

Kebebasan selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Seseorang yang tidak tahu tanggung jawabnya akan menuju tempat yang salah apabila diberi banyak kebebasan.

Oleh karenanya kita harus bijak untuk dalam menentukan bagaimana cara kita mengelola perusahaan kita.

Saya selalu percaya dengan system yang kuat akan mempengaruhi cara bekerja orang menjadi lebih baik. Saya masih ingat cerita dari dosen saya, ketika beliau mengajak diskusi tentang suatu kecelakaan yang menimpa salah satu mahasiswa di kampus kami pada waktu itu. Mahasiswa naas tersebut tertabrak bus yang melaju kencang karena kebut-kebutan. Pihak kampus kemudian membuat kebijakan dengan membangun polisi tidur setiap 20 meter untuk menghalangi kendaraan melaju kencang. Dosen kami menanyakan apakah kebijakan tersebut tepat? Setelah beberapa saat kita berdiskusi kita sadar bahwa kebijakan tersebut tidak mengatasi permasalahan pokok. Kebijakan tersebut diambil lebih sebagai suatu tindakan reaktif. Akibatnya ribuan orang lain yang berkendara secara tertib juga terkena dampak, minimal perjalanan mereka melewati jalan tersebut menjadi tidak nyaman. Kenapa sopir kebut-kebutan? Karena mereka kejar setoran. Mengapa mereka kejar setoran? Karena bayaran mereka dihitung dari seberapa besar jumlah yang mereka dapat hari itu. Bagaimana memperbaiki? Caranya adalah dengan memikirkan kembali bagaimana model penggajian sopir. Hal itu saat ini telah terbukti. Apakah kita pernah melihat sopir bus Transjakarta kebut-kebutan?

Dalam mengelola perusahaan, tentu kita dihadapkan pada banyak masalah. Namun dari sekian banyak masalah tersebut, mayoritas dipicu oleh sistem yang tidak baik, bukan orang yang tidak baik.

Selamat mereview proses dan sistem di perusahan anda!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s