Bocoran Penting dari Global Learning Manager Microsoft

image

Hari Selasa 12 Maret 2013, ketika sebagian besar masyarakat Indonesia sedang menikmati libur Hari Raya Nyepi, kami kedatangan tamu penting dari Microsoft yang terbang langsung dari Seatle. Tamu tersebut adalah Lutz Ziob, General Manager Global Learning Microsoft. Beliau adalah orang yang bertanggung jawab terhadap semua program sertifikasi di Micosoft. Beliau ditemani oleh Mr Chen – Asia Pasific Microsoft.  Saya beruntung karena hari itu saya diminta untuk menjadi moderator untuk kuliah umum.

Tema dari kuliah umum hari itu adalah “Improving Employability Readiness Through MICROSOFT certification”. Saya membuka diskusi dengan mengutip hasil Survey McKinsey, Konsultan Manajemen terbesar di Indonesia, yang m3nyebutkan saat ini Indonesia adalah kekuatan eknonomi nomer 16 terbesar di dunia, dan McKinsey memperkirakan bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi no 7 terbesar di dunia pada tahun 2030. Namun ada beberapa hal yang harus dipecahkan oleh Indonesia agar hal tersebut menjadi kenyataaan, salah satunya adalah masalah pendidikan. Saat ini Indonesia memiliki 55 juta skilled worker dan diperkirakan dibutuhkan 100juta skilled worker di Indonesia pada tahun 2030. Apabila tidak ada lompatan dalam dujia pendidikan kita saat ini maka diperkirakan akan ada kekurangan l3bih dari 9 juta skilled worker di tahun 2030.

image

Lutz Ziob sangat terkesan dengan semangat para mahasiswa dan dosen yang mengikuti acara hari it meskipun hari libur. Oleh karenanya dalam slide pertama dia mengucapkan terimakasih. Dia membuka sesi dengan mengetengahkan berbagai perkembangan teknologi terkini. Salah satunya adalah Kinect, yaitu teknologi yang bisa membaca gerakan manusia sehingga batas dunia nyata dan dunia virtual menjadi lebur. Teknologi lain adalah hologram, contact lens yang bisa berfungsi seperti Google glass, komputer seukuran kartu kredit, dan banyak lagi yang lain. Namun teknologi yang akan merubah dunia adalah transformasi teknologi dalam bidang pendidikan.

Saat ini tengah ada trend MOOC (Massive Open Online Course) atau kuliah-kuliah online gratis yang dibuka oleh Universitas-universitas ternama di Amerika Serikat, seperti Harvard, Stanford dll. Disitu kita bisa belajar, memdapatkan materi dan mendengar kuliah dari profesor-profesor ternama dari sekolah-sekolah bergengsi tersebut. Salah satu media pembelajaran online ini adalah Coursera, yang awalnya adalah project dari salah satu profesor di Stanford. Waktu itu dia iseng membuka elearningnya untuk bisa diakses oleh mahasiswa diluar Stanford. Dia mengirs bahwa yang akan mendaftar adalah sekitar 1000 orang, tetapi betapa kagetnya dia karena akhirnya yang mendaftar adalah 150,000 mahasiswa. Hebatnya lagi dari 150,000 mahasiswa tersebut 20,000 dinyatakan lulus dan bahkan prestasinya lebih baik dari 200 mahasiswa yang mengambil k3las tersebut secara langsung. Bahkan di kelas-kelas berikutnya beberapa mahasiswa meminta ijin untuk tidak ikut kelas dan belajar sendiri di rumah. Profesor tersebut kemudian menjalankan project ini secara serius dan jadilah Coursera.org.

Fenomena tersebut adalah gambaran  bahwa akan terjadi perubahan mendasar dalam dunia pendidikan. Ruang kelas yang saat ini kita ketahui, dimana guru berada di depan dan semua murid menyimak akan berubah. Teknologi memungkinkan bahwa guru dan murid tidak harus dalam satu ruangan yang sama. Lutz Ziob mengungkapkan bahwa teknologi terbukti telah merubah bagaimana kita berpikir, bagaimana kita bertindak dan bagaimana kita berhubungan dengan orang lain. Contohnya adalah mendengarkan musik. Sejak jaman kuno manusia telah menggunakan musik sebagai bagian dari budaya kita. Cara kita menikmati musik telah banyak berubah, dulu kakek kita mendengarkan musik dari piringan hitam, bapak ibu kita mendengarkan musik dari kaset, kita belum lama mendengarkan musik dari CD dan sekarang hampir semua orang mendengarkan musik dari pemutar Mp3. Kebutuhan mendengarkan musik tetap sama, tetapi cara kita memenuhi kebutuhan tersebut sudah sangat berbeda.

Lutz Ziob kemudian membuat perumpamaan yang mudah, apabila kita mau terbang menggunakan pesawat, dan karena kita sangat kaya kita diberi keistimewaan untuk memilih pilot. Maka pilot mana yang kita pilih? Mr A adalah pilot yang telah berpengalaman selama 15 tahun, tetapi dia tidak memiliki sertifikasi internasional, dan Mr B adalah pilot yang baru memiliki pengalaman terbang selama 1 tahun, tetapi dia memliki sertifikasi internasional.? Sebuah perumpamaan yang konyol, tetapi membuat kita berpikir, tentu akan lebih mudah kalau pilihannya adalah Mr A berpengalaman 15 tahun dan memiliki sertifikat internasional, atau ketika Mr B baru berpengalaman 1 tahun dan tidak memiliki sertifikat. Oleh karena itu pengalaman dan sertifikasi harus berjalan beriringan. Saat kita akan memasuki era Globalisasi (Indonesia akan memasuki kesepakatan Masyarakat Ekonomi Asean tahun 2015), maka yang lebih berperan adalah pengalaman dan sertifikasi (bukan gelar akademik).

Kemudian acara dilanjutkan ke diskusi. Ada beberapa pertanyaan menarik yang saya bisa rangkum. Pertanyaan pertama kalau saat ini kita masih ketinggalan teknologi, bagaimana kita akan mengejar ketertinggalan tersebut? Lutz Ziob menanyakan apakah game yang paling populer saat ini? Angry Bird, Apa web yang paling populer saat ini ? Facebook, Apa handphone yang paling populer saat ini ? iPhone. Apakah semua produk tersebut sebelumnya tidak ada yang menciptakan? Apakah mereka mengusung teknologi yang sama sekali berbeda? Jawabannya adalah justru ketiganya mengutamakan pada keserhanaan. Kesederhanaan adalah lambang dari pemahaman kita terhadap kebutuhan dari customer, siapa yang mampu menerjemahkan dengan baik kebutuhan customer dia akan jadi pemenang. Sehingga intinya bukan pada penguasaan teknologi, tetapi pada inovasi. Teknologi bagaimanapun bisa dibeli, saat ini ada ratusan pengembang hebat diluar sana, tetapi yang mereka tidak miliki adalah ide dan pasar.

image

Pertanyaan kedua adalah bagaimana mengatasi kendala budaya, karena penerapan teknologi tentu ada kendala budaya didalamnya. Seperti contoh e-Learning kendala utama bukan pada mahasiswa tetapi justru pada dosen.  Lutz Ziob mengatakan hal tersebut adalah sangat benar, budaya seringkali menjadi penghalang, tetapi juga sebaliknya bisa menjadi pendukung yang kokoh. Tentu diperlukan proses untuk melakukan edukasi sehingga orang sadar dan tergerak, salah satu yang paling gampang adalah mengajak mereka-mereka yang masih enggan untuk melihat contoh nyata penerapan teknologi. Apabila mereka sudah terkesan dengan teknologi tersebut, maka mereka akan memiliki keinginan untuk mencoba dan menerapkan.

Pertanyaan ketiga adalah apa kerjasama yang bisa dilakukan dengna Microsoft? Apabila universita menjadi Microsoft Academy maka akan banyak sekali fasilitas yang bisa dinikmati. Saat ini Microsoft telah meluncurkan program Dreamspark dan Bizspark yaitu insentif untuk mahasiswa yang mendirikan perusahaan akan diberikan produk gratis dari Microsoft selama 3 tahun. Microsoft memandang penting entepreneurship di kalangan mahasiwa, karena semua perusaan besar di dunia saat ini didirikan oleh Mahasiswa, sebut saja Microsoft, Apple, Google, dan Facebook. Microsfot juga meluncurkan banyak program gratis di mslearn.net yang bisa diakses oleh mahasiswa. Microsoft setiap tahun mengadakan kompetisi untuk mahasiswa dan mengundang pihak-pihak kampus untuk datang ke Redmont Seatle kantor pusat Microsoft.

Masih ada beberapa catatan lagi, yang akan kami update dalam bentuk topik-topik terpisah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s