Apakah saya sudah sukses …. ?

Pelatihan #SPACEGAME selalu memberikan pengalaman yang menarik. Setelah melakukan aktivasi dan simulasi, tiba sesi terakhir untuk refleksi. Masing-masing peserta menuliskan tujuan hidup, kebiasaan yang akan diubah dan kontribusi yang akan diberikan. Kesuksesan pelatihan tersebut akan diukur dari sejauh mana tindak lanjut peserta paska pelatihan di unit kerja mereka masing-masing.

Tetapi, sebelum pelatihan tersebut ditutup ada peserta yang mengacungkan tangan sangat bersemangat untuk bertanya.

“Maaf pak Rudy saya mau bertanya… Apakah menurut Pak Rudy, Pak Rudy sudah sukses ? ”

Spontan saya mejawab “Belum”

“Maaf pak, saya sangat kecewa dengan bapak. Karena saya mengira bapak bisa memotivasi kami untuk menjadi sukses. Bapak tadi sudah menceritakan beberapa perjuangan bapak untuk berubah, dan saya kira hasilnya saat ini bapak sudah merasa sukses.

Saya kemudian mengundang peserta tersebut ke depan panggung, untuk menjelaskan lebih jelas.

“Pada awal saya melihat bapak dan team bapak, saya merasa penampilan bapak dan team bapak jauh dari mengesankan.. ” Secara umum dia mengutip pertanyaan saya dalam pelatihan, “Apakah kita butuh pengakuan orang lain untuk dianggap sukses?, Apakah seorang petani tidak lebih sukses dari seorang menteri?” Sehingga dia merasa kalau saya sebagai pembicara saja tidak merasa sukses, bagaiman dengan mereka?

Setelah pelatihan saya ajak bicara dari hati ke hati untuk salah seorang peserta ‘special’ tersebut. Dari semua ukuran pelatihan yang kami lakukan hari itu sangat sukses. Peserta menjadi begitu semangat, dan mereka belajar dari simulasi mengenai kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan selama ini.

Contoh berikut ini adalah komentar dari salah satu peserta ” dari simulasi yang tadi kita lakukan, saya baru sadar sulitnya kita mengajari sesuatu kepada orang yang lebih tua.. saya harus mengubah metode saya dalam saya melatih dan membimbing warga desa … ” Ungkap seorang peserta wanita yang memiliki tanggungjawab untuk pemberdayaan wanita di seuah desa di Kulonprogo.

“Kami sudah melakukan proses dengan benar, kami bekerja sama dengan baik, namun kami terlena dalam keberhasilan kami dan kami menjadi tidak fokus, sehingga kami kalah dalam permainan” Kata kepala unit Produksi mengeai apa yang dia pelajari dari simulasi yang kami lakukan.

“Kebersamaan itu sangat penting, dengan bekerja sama dan membagi tugas sesuai dengan keahlian masing-masing,maka tidak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan ” ungkap salah satu peserta dengan semangat.

Pendiri dan pemimpin Yayasan, mengungkapkan apresiasinya, karena beliau melihat masing-masing peserta sangat antusias dalam mengikuti pelatihan dan terus membicarakan tema-tema yang dilontarkan selama pelatihan ketika mereka beristirahat. Tercermin optimisme yang tinggi menyambut tahun depan, untuk program-program dan pengembangan yang akan dilakukan yayasan, karena komitmen tinggi dari anggota-anggota muda tersebut.

Namun pekerjaan saya belum selesai, ada satu peserta ‘spesial’ yang perlu saya gali informasinya.

“Mas saya sangat tertarik dengan masukan anda tadi bahwa penampilan kami kurang mengesankan, bisakah diperjelas?” saya mengajak peserta tersebut untuk berbicara ketika kami sudah selesai packing dan siap pulang.

“Mas Rudy, saya pernah menjemput Bob Sadino, dan beliau dari turun pesawat menyalami kami satu persatu, menyebutkan nama kami, merangkul kami seolah kami adalah kawan lama yang tidak bertemu. Sedangkan tim SYNCORE datang kesini dengan sangat dingin.”

O saya sangat paham sekarang, itu yang dia maksudkan penampilan yang kurang mengesankan.

“Bagaimana dengan materi kami?”

“O materi sudah bagus. Peserta saya kira bisa menangkap secara garis besar permasalahan yang harus mereka hadapi di dunia nyata”.

Ok. Masukan yang sangat baik bagi kami. Pada waktu datang saya masih ingat sekali, bahwa saya hanya menyalami Ketua Yayasan, dan pikiran kami adalah bagaimana menseting tempat secara cepat. Kami salah mengambil jalan ke lokasi, jadi kami terlambat 30 menit dari jadwal. Kami selanjutnya sibuk memasang sound system, LCD, menyiapkan perlengkapan dan persiapan lainnya. Setelah selesai kami dipersilahkan untuk sarapan sedang semua peserta sudah menungu di lokasi. Kami tidak berbaur dengan peserta, dan ketika saya memulai, karena memang waktu sudah terlambat, saya langsung ke pokok bahasan training tanpa warming up yang cukup.

Saya belajar, itulah yang membedakan pembicara amatir seperti saya, dengan pembicara-pembicara hebat diluar sana. Mereka sangat jago dalam membangun suasana.

Saya kemudian berpamitan, dan sebelum pulang ada seorang anak muda yang menyalami saya dengan erat, dia mengucapkan terimakasih atas materi yang kami berikan. “Pak Rudy jangan terlalu didengar yang disampaikan di sesi terakhir dari salah satu dari kami, dia sudah kebanyan ikut seminar motivasi, jadi mungkin materi bapak tidak ngefek ke dia. Kalau bisa bapak luangkan waktu melihat kami di panti asuhan”

Saya hanya tersenyum. Tetapi saya merenungkan pertanyaan dari peserta spesial tersebut…

“Apakah saya sudah sukses?”

Saya merasa kurang bersyukur kalau saya mengatakan tidak sukses di titik ini. Tetapi saya masih memiliki banyak impian yang belum tercapai. Masih terlalu jauh perjalanan. Pada saat pelatihan saya telah menyampaikan, mohon maaf kalau saya mengecewakan mereka kalau mereka mengira saya adalah orang yang sukses. Mohon maaf kalau saya tidak bisa memotivasi anda untuk menjadi sukses, karena saya percaya hanya anda sendirilah yang bisa memotivasi anda untuk menjadi sukses. Apabila anda menggantungkan diri anda kepada orang lain pada akhirnya anda akan kecewa.

Sungguh banyak pelajaran yang saya dapat dari memberikan pelatihan di Yayasan Madania. Mungkin dari sedikit yang saya sampaikan, saya justru lebih banyak belajar dari mereka. Belajar bagaimana tentang ketulusan, kerjakeras dan konsistensi. Merasa sangat tersentuh bagaimana mereka menangani sekitar 150 anak yatim, 20 orang lanjut usia, memikirkan bagaimana memberi makan mereka, bagaimana membiayai sekolah mereka.

Gusti Allah mboten sare. Semoga mereka selalu diberi limpahan barokah dan rahmat.

Kami sungguh beruntung diminta membantu mereka. Semoga ini termasuk jalur sukses dunia akhirat. Amien

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s