Dosen Baik vs Dosen Hebat

Good Lecture Teach, Great Lecture Inspire !

Saya dulu memiliki dua dosen. Dosen A adalah dosen yang sangat sistematis dan sabar. Beliau mengajar kami dengan sangat baik. Semua buku bisa dijelaskan dengan runtut dan kami menjadi jelas sejelas-jelasnya. Dosen yang satunya sebut saja dosen B, tidak pernah membawa buku. Beliau menghabiskan 1.5 jam dari 2.5 jam sesi kuliah dengan bercerita apa yang dia lakukan. Dia suka menggunakan bahasa yang tinggi. Suka menjelaskan sesuatu yang tidak terkait dengan mata kuliah yang kami ikuti.

Entah kenapa saya suka dengan cara pengajaran dosen B. Saya tidak ingat sama sekali dengan materi mata kuliah yang beliau ajarkan, tetapi saya ingat sampai sekarang cerita-cerita beliau. Saya memutuskan untuk meniti karir menjadi konsultan, karena terinspirasi cerita beliau menangani salah satu BUMN di Indonesia. Saya tertarik dalam bidang sistem informasi, setelah beliau memperlihatkan flowchart disain system yang beliau rancang. Saya baru sadar bahwa profesi akuntansi bisa menjadi begitu keren.

Saya tidak berusaha menyampaikan bahwa Dosen B lebih baik dari Dosen A. Menurut saya dua-duanya harus ada di Universitas. Saya tidak bisa membayangkan kalau di suatu universitas hanya ada dosen tipe A, maka universitas itu hanya akan menghasilkan lulusan-lulusan yang miliki skills tinggi tetapi tanpa visi yang jelas. Sebaliknya kalau isinya semua dosen tipe B, maka mahasiswa akan banyak ide tanpa didukung skills yang memadai.

Setelah beberapa tahun, melewati beberapa karir, akhirnya saya menjadi dosen. Saya yang jelas bukan dosen yang baik, namun saya berusaha menjadi dosen yang hebat. Saya kesulitan kalau harus menerangkan sesuatu dengan sistematis, runtut dan pelan-pelan. Bagi saya syarat belajar adalah adanya rasa ingin tahu, semakin besar rasa ingin tahu maka semakin besar motivasi belajar. Untuk menimbulkan rasa ingin tahu, maka mahasiswa perlu ditimbulkan rasa tertarik atas materi yang akan kita sampaikan. Semakin mereka tertarik, semakin mereka ingin tahu dan semakin mereka ingin terus belajar. Apabila motivasi belajar sudah kuat, dosen tinggal memberikan kisi-kisi materi yang perlu diperdalam.

Saya sadar tidak semua mahasiswa suka dan cocok dengan pendekatan diatas, tetapi itulah indahnya belajar di Universitas. Begitu banyak pendekatan bisa dipakai, karena seperti di dunia nyata, tidak ada yang seragam. Keberagaman dan ketidakjelasan adalah kondisi yang pasti kita hadapi di dunia nyata. Kita hanya perlu melatih diri dan membuka cakrawala untuk menghadapi keberagaman dan ketidakjelasan tersebut, sehingga tetap kita melihat pola yang ada.

Saya beruntung semakin hari semakin banyak mahasiswa yang semakin tertarik belajar Auditing, Sistem Informasi dan Manajemen Strategik. Semoga mereka bisa menjadi generasi-generasi yang mencerahkan di masa depan.

 

 

2 comments

  1. Dosen seperti yang dicontohkan Bapak enak kalau didengar sekali dua kali Pak…. tapi kalau tiap kali ketemu cuma njelasin pengalaman hidupnya tanpa ngasih ilmu yg jelas, saran saya sih nulis buku biografi aja dan dibagikan ke siswa he he he *sarkastik*… saya suka dosen yg menjelaskan sesuai dgn silabus tapi banyak memberikan contoh nyata dari pengalaman hidupnya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s