Tentang #BAJASAKTI

*Seharusnya saya menyelesaikan deadline pagi ini, tetapi tidak mengapa, untuk sharing kepada pembaca, khusunya mahasiswa saya, saya sempatkan menulis pengalaman saya ini”

Saya sering menyampaikan ke mahasiswa saya, bahwa pada dasarnya saya adalah seorang pemalu. 99.99% dari mahasiswa saya tidak percaya akan hal itu. Tetapi saya sampaikan satu hal, seseorang di masa depan tidaklah selalu sama dengan seseorang di masa lalu.

Flashback di pertengahan 90’an ketika saya masih SMP. Saya adalah orang yang sangat pemalu, tertutup dan minder. Layaklah seperti itu, karena saya hanya anak kampung yang kesasar sekolah di sekolah terbaik di Yogyakarta, dan waktu itu terbaik di Indonesia (kata kepala sekolah saya waktu itu). Saya yang dulu di kampung saya dianggap pinter, tiba-tiba harus menerima kenyataan bahwa saya masuk ke SMP itu di peringkat 320 dari 400 siswa.

Saya juga mendapati kenyataan bahwa sebagian besar teman-teman saya diantar jemput naik mobil atau memakai sepeda yang sangat bagus. Saya baru sadar bahwa saya masuk di salah satu lingkungan paling elit di kota kami. Eh si itu anaknya pak ini lho, o itu cucunya ini lho dst. Saya masih ingat sekali ketika guru saya hampir tidak percaya kalau bapak saya hanya seorang pedagang kelontong.

Waktu itu jelas saya tidak bisa mengikuti gaya hidup teman-teman saya. Teman-teman saya sangat baik. Mereka tidak pernah melecehkan, namu saya sadar saya bukanlah seperti mereka. Sehingga saya berpikir satu-satunya cara saya bisa sejajar dengan mereka adalah dengan meraih prestasi akademik. Maka sejak itu tidak ada suatu hari tanpa belajar. Belajar seolah menjadi kebutuhan dan satu-satunya cara untuk saya bisa memiliki sesuatu yang saya banggakan. Mulai waktu itulah saya menjadi serius, bahkan menjadi terlalu serius untuk anak seumuran SMP. Saya semakin jarang bergaul, dan saya semakin menjadi tidak percaya diri.

Nah. Judul diatas adalah #BAJASAKTI. Saya ingin cerita satu mimpi saya yang paling aneh. Suatu malah saya bermimpi pergi ke sekolah, dan semua orang memanggil saya BAJA (sebagi catatan waktu itu belum ada filem Satria Baja Hitam… he he). Bagi anda yang lupa nama saya, nama saya Rudy. Jadi aneh sekali ketika orang-orang memanggil saya BAJA. Alkisah di mimpi tersebut saya digambarkan sebagai sosok yang percaya diri, memiliki kemampuan super dan banyak teman.

Setelah bangun, bayangan tentang sosok BAJA tadi sangat kuat membekas dalam benak. Sepanjang perjalanan saya sekolah selama 45 menit itu saya terus membayangkan hal tersebut. Apa iya saya bisa jadi jagoan? Sebagai catatan saya harus bangun jam 5 pagi, dan siap di pingir jalan untuk naik bis jam 6 pagi. Jam 6.30 saya harus ganti bis ke jurusan kota. Klo saya beruntung saya akan sampai jam 6.45, kalau saya kelewat satu jadwal bis, saya bisa sampai jam 7.00 atau telat.

Singkat kata dari mimpi saya tersebut saya di SMP kemudian menjadi, he he tetap tidak percaya diri. Saya merasa disitu paling kampungan, paling miskin, dan paling kecil (walaupun kenyataan semua itu memang iya). Butuh waktu hampir dua tahun, yaitu ketika saya kelas 2 SMA, saya bisa keluar dari belenggu rasa tidak percaya diri.

Lain kali saja ya saya cerita bagaimana akhirnya saya keluar dari belenggu rasa tidak percaya diri. Tetapi sejak itu kalau saya sedang down, tidak percaya diri, frustasi, saya selalu ingat bahwa suatu ketika saya pernah dipanggil BAJA (walau dalam mimpi). Selalu ingat untuk BAngun JAlur Sukses Anda dengan Kekuatan alami yang Terdapat dalam diri anda sendirI (#BAJASAKTI) . Agak maksa dikit !

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s