How To Think Like CEO

CEO XL - Everyone Can Lead
CEO XL – Everyone Can Lead

 

Apakah  CEO adalah seorang manusia super yang memiliki kekuatan khusus yang berbeda dari kebanyakan orang? Sayangnya mitos-mitos tentang CEO banyak yang salah. Mereka adalah orang-orang seperti kita hanya saja mereka adalah orang yang memiliki pola pikir berbeda dari kebanyakan orang.

Kita patut berterimakasih dengan Jim Collins yang telah melakukan studi yang luar biasa dengan membandingkan perusahaan yang hebat dengan perusahaan-perusahaan yang biasa. Perusahaan hebat menurut definisi Jim Collins adalah perusahaan yang nilai perusahaan terus meningkat dalam kurun waktu 30 tahun. Ternyata ada temuan menarik, perusahaan-perusahaan hebat yang dipimpin oleh CEO yang memiliki Level-5 Leadership. Jim Collins menemukan ternyata tidak ada korelasi yang kuat antar tipe kepribadian dan gaya kepemimpinan dengan kepemimpinan yang efektif. Jim Collins menyimpulkan pemimpin tersebut hebat karena mereka berpikir secara berbeda. Mereka tidak suka diliput oleh media sehingga rekam jejak mereka nyaris tidak diketahui umum. Hal ini berbeda dengan Celibrity CEO, yang setiap langkah dan komentarnya selalu dikutip oleh media. Kita selama ini menganggap CEO selibritis tersebut adalah CEO yang hebat, yaitu memiliki gagasan yang brilian, mampu mengubah keadaan dengan cepat, komunikator yang ulung dengan kata-kata yang sangat enak dikutip, tetapi ternyata dalam jangka panjang bukan CEO seperti itu yang bagus buat perusahaan. Seringkali mereka meninggalkan berbagai masalah ketika tidak menjabat, demi popularitas kadang CEO tersebut mengorbankan kepentingan jangka panjang perusahaan untuk mengejar prestasi pribadi mereka.

Temuan Jim Collins tersebut sebenarnya bukanlah hal yang baru. Peter Drucker lewat karya monumentalnya Effective Executives telah menyebutkan bahwa Effective Executives berpikir WE daripada ME. Artinya mereka selalu menempatkan kepentingan perusahaan sebagai prioritas, walaupun dampaknya mereka harus mengambil keputusan yang tidak populer. Jack Welch pada awal kepemimpinannya harus merumahkan hampir 20.000 orang sehingga dijuluki Neutron Jack dan setiap tahun merangking karyawannya dan 10% orang di ranking terbawah ditendang dari perusahaan. Ketika ditanya oleh seorang reporter, apakah dia merasa bersalah? Jack Welch dengan tegas mengatakan TIDAK. Karena tugas dia adalah melakukan tindakan sesuai dengan kepentingan perusahaan. Stephen J Covey lewat bukunya yang sangat berpengaruh yaitu 7 Habits of Highly Effective People juga mengatakan hal yang sama, pemimpin yang efektif dibangun karena kebiasaan-kebiasaanya bukan karena sifat-sifat dasar atau kepribadiannya.

Artinya meskipun anda pemalu, saat ini hanya ahli dibidang teknis, fisik anda kurus, tidak atletis anda jangan berkecil hati, karena bukan itu yang dicari dari seorang CEO. Kita simak pengalaman Hasnul Suhaimi, CEO XL yang sukses mereformasi industri telekomunikasi di Indonesia. Beliau juga bukan tipikal seorang CEO. Beliau memiliki IPK yang lumayan yaitu 2.75, meniti karir dengan perlahan yaitu 20 tahun di posisi middle management, berperawakan kurus tidak tinggi besar. Pada suatu ketika beliau diwawancara untuk posisi CEO salah satu provider dengan pemegang saham dari luar negeri, dan para pemegang saham tidak menyetujui dia menjadi CEO karena tipikalnya tersebut (tentu saja sekarang mereka menyesal setengah mati setelah melihat prestasi Bp Hasnul Suhaimi menjadikan XL sebagai provider telekomunikasi terbesar no 2 di Indonesia hanya dalam waktu 3 tahun). Bapak Hasnul Suhaimi memulai karir sebagai seorang teknisi, tetapi setelah beberapa lama menekuni bidang tersebut dia mengambil S2 untuk bidang Marketing dan Management, karena dia sadar tanpa orang tahu bidang management maka seseorang tidak bisa menjadi seorang pemimpin. Artinya Hasnul Suhaimi memiliki pola pikir yang berbeda dari sekian banyak teknisi. Beliau juga memiliki pola pikir yang sangat berbeda saat melihat mengapa tarif telekomunikasi harus mahal. Beliau menjadi CEO yang hebat karena pola-pola pikir yang berbeda tersebut.

Apakah untuk menjadi CEO hanya perlu pola pikir yang berbeda? Tentu saja tidak, tidak hanya berbeda tetapi ada beberapa kharakteristik dari pola pikir khas seorang CEO. Saya cukup beruntung bisa bergaul dan mengamati secara mendalam tentang bagaimana CEO berpikir. Lewat diskusi-diskusi panjang dalam tugas saya sebagai konsultan dalam beberapa perusahaan, maka saya bisa mengambil beberapa pola dari seorang CEO. Saya tuliskan beberapa versi saya tentang cara CEO berpikir, apabila anda telah memiliki beberapa diantaranya maka anda sudah layak menjadi CEO.

1. Tahu benar-benar apa yang diinginkan dan terbaik untuk perusahaan

Kata-kata diatas gampang diucapkan tetapi sulit dilaksanakan. Apakah kita benar-benar tahu yang kita inginkan? Apakah kita benar-benar tahu yang customer inginkan? yang diinginkan karyawan. Saya mengamati CEO yang hebat sangat tahu apa yang diinginkan oleh para stakeholder, utamanya customer. Seperti yang dikatakan Steve Jobs, perusahaan harus bisa memberikan yang diinginkan oleh customer, bahkan ketika customer belum sadar tentang kebutuhan tersebut. Kepekaan dalam memahami apa yang diinginkan oleh customer, karyawan, pemegang saham, supplier dll adalah akibat dari tempaan yang lama di lapangan atau saya sebut jam terbang. Kualitas ini yang sangat sulit dimiliki oleh seseorang. Selanjutnya CEO benar-benar tahu dalam memberikan prioritas antara berbagai keinginan tersebut dan memilih melakukan yang terbaik untuk perusahaan. Hal yang sering kita tidak pahami adalah mengapa seorang CEO bisa benar-benar yakin dan tegas dalam keputusannya, karena mereka berpegang dengan prinsip ini, selama mereka memahami dan memberikan apa yang benar-benar diinginkan oleh customer maka bisnis akan aman. Coba anda latih, tahukah anda apa yang benar-benar diinginkan oleh customer anda?

2.Melihat peluang lebih tajam dan memikirkan teknis kemudian

Seorang CEO akan menanyakan “MENGAPA” kita melakukan sesuatu, bukan “BAGAIMANA” melakukan sesuatu. Apabila jawaban “MENGAPA” tersebut kurang meyakinkan maka dia akan terus menggali, karena bagi CEO konsep atau latar belakang dari suatu keputusan itu lebih penting daripada memikirkan cara. Kita yang bukan CEO seringkali ditanya “bisa tidak?” dan otak kita langsung berpikir tentang teknis untuk melakukan hal tersebut, untuk dasar menjawab ‘bisa’ atau ‘tidak’. CEO menghindari terjebak dalam pertanyaan ‘bisa tidak’? Tetapi selalu bertanya “mengapa kita melakukan hal ini?”. Ketika mereka mendapat alasan untuk melakukan hal tersebut, maka pertanyaan mereka diubah bukan “bisa tidak” tetapi “bagaimana caranya bisa?” Seringkali kita menganggap CEO sebagai orang yang kurang bertanggungjawab karena melempar pertanyaan tersebut ke orang-orang teknis, dan mereka tentu tidak senang dengan jawaban ‘tidak bisa’. Tetapi itulah tugas mereka, memberikan arah bagi perusahaan atau team, walaupun dengan cara agak memaksakan atau ‘menyeret-nyeret’.

3. Pandai berkalkulasi resiko dan return.

Meskipun CEO bukan orang yang suka berpikir teknis, bukan berarti mereka tidak berpikir secara mendalam. Mereka berpikir sangat mendalam dalam hal analisa resiko. Mereka memikirkan hal-hal yang bahkan belum terjadi tetapi mungkin akan terjadi dan bagaimana responnya. Ketika mereka merasa bahwa perusahaan bisa mengelola resiko-resiko, termasuk resiko terburuk maka mereka akan melihat return atau dampak-dampak yang akan didapat perusahaan. Berbeda dengan keyakinan banyak orang, CEO dalam hal-hal tersebut tidak hanya berpikir dalam artian finansial. Mereka berpikir dengan aspek-aspek yang lebih luas.

Masih ada beberapa ciri lain yang membedakan seorang CEO dengan orang kebanyakan (termasuk karyawan). Semoga bisa kita sambung lagi…

Apabila anda ingin Versi Lengkap Isi Form Berikut !

Bagaimana berpikir seperti CEO
Rudy Suryanto – Bagaimana berpikir seperti CEO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s