Pepeng Klinik Kopi dan Kekuatan Cerita untuk Branding

Image

Kenalkan nama dia Pepeng. Dia adalah seorang traveller. Pekerjaannya adalah keliling Indonesia, dan selain travelling hobi dia adalah kopi. Sejak 3 tahun yang lalu dia menggeluti dunia kopi. Pergi ke berbagai tempat di Indonesia untuk berburu kopi terbaik. Seringkali dia pergi seminggu atau dua minggu, dan selama itu tempat jualan kopi itu tutup. Tetapi para pelanggan akan sabar menunggu, menunggu datangnya cerita-cerita baru dan kopi-kopi terbaik yang dia bawa.

Klinik Kopi adalah tempat dia jualan kopi. Kedai kopi ini sangat unik. Menempati lokasi di Laboratorium Pusat Lingkungan Hidup Universitas Sanata Dharma, anda akan dibawa ke atmosfir yang unik. Lokasinya di tengah kota, tepatnya di belakang Toko Buku Togamas. Tetapi di tempat ini ratusan pohon jati tumbuh menjulang tinggi, persis suasana hutan jati. Setelah anda menyusuri jalanan setapak hutan jati tersebut tepat ditengah ada bagunan dua lantai yang sangat besar mirip sebuah rumah panggung. Tepat di lantai dua inilah mas Pepeng membuka klinik kopinya.

Image

Setiap orang harus mendaftar dulu sebelum mendapat sesi klinik kopi. Hari itu kebetulan pengunjung tidak terlalu ramai, jadi kami ‘hanya’ menunggu selama setengah jam. Saya serius mengatakan ‘hanya’ karena dari obrolan dengan sesama pembeli biasanya kalau weekend orang harus menunggu selama 3 jam untuk dilayani. Selanjutnya kami dipanggil dan kami semakin penasaran apa yang menarik dari klinik kopi ini. Saya beruntung waktu itu ditemani oleh tiga orang kawan dekat, jadi waktu setengah jam berlalu tanpa kami rasa karena kami terlibat obrolan yang sangat seru terkait suatu proyek yang akan kami luncurkan dalam waktu dekat. Image

Mas Pepeng membuka cerita dengan menunjukkan video dari tablet miliknya. Video pertama dia bercerita tentang proses memetik kopi dan video kedua dia bercerita tentang proses menggoreng (roasting) kopi. Mas Pepeng menanyakan apakah kami suka minum kopi dan kopi seperti apa yang kami minum. Dua teman saya kebetulan bukan penikmat kopi tulen, saya sendiri setiap hari minum kopi, tetapi ya hanya sekedar minum kopi tidak lebih. Mas Pepeng bercerita bahwa ada 70 single origin (jenis kopi asli) di Indonesia. Kita adalah negara dengan single origin kopi terbanyak di seluruh dunia. Kopi terbaik dihasilkan dari tanah-tanah di Indonesia, tetapi sebagian besar orang Indonesia minum kopi instan. Hal ini sangat ironis, seperti tikus yang mati di lumbung. Kita memiliki kekayaan yang luar biasa tetapi yang menikmati adalah orang lain. Mas Pepeng menyampaikan kita bisa mencintai Indonesia lewat alamnya dan juga kopinya. Hal yang tidak masuk diakal adalah orang mencintai Indonesia tetapi minum kopi instan.

Kita tentu terpukau dengan cerita dan pengetahuan tentang kopi yang diberikan oleh mas Pepeng. Mas Pepeng bercerita sangat antusias sehingga kita tidak berasa bahwa kita sudah 30 menit berada disitu. Selanjutnya kami memilih kopi. Saya dan teman saya memilih kopi Sweet Gayo. Mas Pepeng tidak menyediakan gula dan susu untuk kopi, supaya kami benar-benar merasakan kopi asli. Teman saya satunya memilih Blue Batak. Mas Pepeng juga menjelaskan banyak kekeliruan yang dipahami orang, misalnya kalau kopi membuat orang menjadi susah tidur. Kopi asli akan memberikan efek rileks bukan tegang. Tingginya kadar kafein karena lamanya bubuk kopi bertemu dengan air. Lewat teknik press water kita akan mendapatkan sari kopi dan ampasnya akan dibuang. Minum kopi sebaiknya waktu kopi masih panas sehingga aroma dan rasanya masih optimal. Image

Mas Pepeng kemudian membuat demonstrasi yang unik. Setelah kopi jadi mas Pepeng meminta teman saya untuk mencium aroma kopi tersebut dan menanyakan apa kopi instan yang biasa dia minum. Teman saya menyebutkan salah satu merek kopi instan yang sangat populer di Indonesia, kemudian kami terkejut karena mas Pepeng kemudian mengambil salah satu sachet kopi tersebut dan membuat segelas kopi. Selanjutnya mas Pepeng minta teman saya untuk mencium kopi instan tersebut dan meminta membandingkan dengan kopi asli. “Beda bukan? tanya mas Pepeng. Teman saya mengangguk anggukkan kepala, “iya benar-benar beda’. Mas Pepeng kemudian membuang satu gelas kopi instan tersebut. Saya sangat yakin setelah pengalaman tersebut teman saya pasti akan punya perasaan berbeda setiap minum kopi instan.

Image

Selanjutnya tiba giliran saya. Saya menikmati proses menggiling kopi, menuangkan bubuk kopi ke mesin press dan melihat pancuran air pelan-pelan keluar dari mesin press. Aroma yang semerbak dan melihat proses itu secara langsung merupakan pengalaman yang sungguh eksotis. Ketika saya meminum saya membayangkan seperti benar-benar berada di tepi hutan, mendapatkan kopi segar dan keramah-tamahan penduduk yang menyajikan kopi secara personal. Saya baru agak sadar kenapa Klinik Kopi menjadi begitu mempesona dan membuat orang selalu ingin kembali kesitu. Experience !!

Image

Mas Pepeng berkali-kali menanyakan darimana kami berasal (maksudnya institusi kami) dan kami hanya bilang kami dari Jogja. Selanjutnya kami dikenalkan dengan setiap orang yang disitu. Mas Pepeng memanggil beberapa pelanggan lama dan meminta mereka untuk menambahkan cerita tentang kopi. Saya sangat terkesan dengan salah satu wanita muda berjilab yang minum espresso dari gelas kecil (tetapi full kopi pekat) dan dia menganggap minum kopi yang benar adalah ketika kita benar-benar bisa merasakan kemurnian kopi. Sampai saat ini pun saya belum bisa membayangkan apa yang dimaksud dengan kemurnian kopi. Belum bisa paham kenapa ada orang yang bisa merasakan nikmat dibalik kepahitan kopi.

Kami meneruskan pembicaraan sampai jam 11 malam. Sampai dengan Klinik Kopi ditutup. Atmosfir tempat itu memang sangat cocok untuk mengobrol. Selain pengalaman kopi banyak ide yang kami dapat dari pembicaraan malam itu. Saya kemudian menceritakan pengalaman saya ini ke mahasiswa dan pada akhir cerita saya menanyakan berapa diantara mereka yang pingin kesana? Ada 5 sampai dengan 10 tangan terangkat. Inilah kekuatan cerita sebagai metode branding. Klinik Kopi tidak memasang plang, tidak pernah pasang iklan tetapi mereka punya customer yang loyal. Malam itu saya bertemu dengan komunitas disainer Dagadu, komunitas Google Busines Group dan beberapa komunitas anak muda. Sebuah lingkungan yang asing bagi saya, tetapi saya seperti kesetrum semangat muda dan kreatif disitu. Setiap orang duduk lesehan dan saling bercerita tentang ide. Mungkin itulah nikmatnya kopi, bukan kopinya tetapi semangat persahabatan dari sesama peminum kopi.

 

 

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s