Mengukur Dampak dan Strategi Implementasi IFRS di BUMN

 photo 106IFRSBUMN-Aston9Mei2014.jpg

BUMN di Indonesia wajib menerapkan International Financial Reporting Standards sesuai dengan Surat Edaran Kementrian BUMN No S-156/D4.MBU/2010. Namun sesuai tenggat jadwal yaitu tahun 2012 masih ada beberapa BUMN yang kesulitan dalam menerapkan IFRS. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa masih ada kesulitan-kesulitan dalam menerapkan IFRS dan bagaimana strategi untuk mengatasi kesulitan menerapkan IFRS tersebut.

Pada Workshop Implementasi IFRS di BUMN di Hotel Aston Primera Bandung pada tanggal 9 Mei 2014, hal tersebut dibahas tuntas. Workshop tersebut memadukan pembicara dari akademisi yaitu Rudy Suryanto, SE.,M.Acc.,Ak dan praktisi yaitu Direktur Keuangan TELKOM Honesti Basyir dan Direktur Keuangan PT Semen Gresik Ahyaniazzam. PT Telkom dan PT Semen Indonesia memang layak dijadikan contoh studi kasus penerapan IFRS yang berhasil di Indonesia
 photo 107IFRSBUMN-Aston9Mei2014.jpg

Masuk ke materi, Rudy Suryanto yang mendapatkan kesempatan pertama memberikan penjelasan yang mudah bagi peserta untuk membedakan IFRS dengan PSAK lama. Perbedaan mendasar ada lima yaitu (1) perubahan dari rules based menjadi principle based (2) penekananan pada professional judgement (3) penggunaan fair value (4) revaluasi (5) pengungkapan yang lebih luas.

Sesi materi ini langsung diberikan contoh-contoh agar peserta bisa menerapkan prinsip-prinsip tersebut dan mengetahui secara langsung apa perbedaan mendasar antara IFRS dan PSAK Lama. Selanjutnya Rudy Suryanto membagi ke peserta kerangka untuk memahami dampak dari IFRS. Dampak IFRS akan berbeda-beda sesuai industri. Contoh industri keuangan seperti Bank paska adopsi IFRS, sangat terdampak oleh PSAK 50 dan PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan. Industri Asuransi sangat terdampak dengan PSAK tentang kontrak asuransi dan hampir semua BUMN akan terdampak dengan ketentuan PSAK 16 Aset Tetap dn PSAK 30 tentang SEWA.

Kemudian Secara singkat Rudy Suryanto menjelaskan mengenai bagaimana strategi dalam menghadapi hal-hal tersebut. Satu hal yang pasti adalah akuntan mau tidak mau harus memahami bisnis. Selanjutnya memetakan proses bisnis dan melihat transaksi-transaksi apa yang terdampak dengan ketentuan IFRS. Selanjutnya melihat kebijakan akuntansi , adakah perubahan kebijakan akuntansi paska adopsi IFRS. Kalau iya maka kebijakan akuntansi perusahaan harus dirubah. Selanjutnya melihat format laporan keuangan dan menyesuaikan CoA. Semua hal tersebut harus dipadukan dalam SOP Keuangan agar bisa jadi panduan operasional bagi team keuangan untuk mengelola transaksi dan menyusun laporan.

Berdasarkan diskusi dengan peserta disimpulkan bahwa masalah terbesar dari adopsi IFRS adalah perubahan dalam hal reporting. Oleh karena itu Rudy Suryanto memaparkan hasil risetnya untuk memetakan ketentuan reporting dengan pasal-pasal yang ada didalam PSAK.
 photo 112IFRSBUMN-Aston9Mei2014.jpg

Pada sesi berikutnya Bp Ahyaniazzam memaparkan studi kasus penerapan IFRS di Semen Gresik. Semen Gresik memiliki kasus menarik ketika mengakuisisi Pabrik Semen Than Long di Vietnam. Mereka masih menggunakan Vietnam Accounting System dan sistem informasi akauntansi yang sederhana. Team dari Semen Gresik dalam waktu singkat harus melakukan langkah-langkah untuk merubah sistem tersebut ke SAP. Mereka berhasil melakukan dalam waktu 6 bulan. Semen Gresik merasakan manfaat dari penerapan IFRS yaitu dari peningkatan market value. Saat ini Semen Gresik memiliki kapitalisasi nilai pasar sebesar 77 triliun, hampir 3 kali nilai buku. Hal ini merupakan apresiasi dari investor , salah satunya adalah keberhasilan Semen Gresik dalam pembenahan tata kelola dan pelaporan keuangan.

Sesi terakahir adalah pembicara dari Direktur Keuangan PT Telkom Bp Honesti Basyir. Telkom adalah pelaku nyata penerapan IFRS secara penuh. PT Telkom karena listing di NYSE maka dia ada dua pilihan yaitu melaporkan laporan keuangan berdasarkan US GAAP atau IFRS. Telkom memilih memakai IFRS. Mulai tahun 2008 telah ada langkah-langkah untuk penerapan IFRS. Kunci sukses penerapan IFRS dari Bp Honesti Basyir adalah dukungan penuh dari manajemen puncak. Selanjutnya membentuk Task Force. Pak Honesti mengundang Bp Wisnu ketua Task Force Implementasi IFRS di Telkom untuk berbagi bagaimana tantangan dan hambatan Task Force. Selain itu Pak Honesti memaparkan bagaimana Telkom telah sukses melakukan penyesuaian SAP sehingga laporan berbasis IFRS ataupun PSAK bisa tersaji secara otomatis.

Kesimpulan dari Workshop ini adalah masih banyak PR besar bagi BUMN untuk melakukan implementasi IFRS. Pada 1 January 2015 akan ada 8 IFRS yang diadopsi di PSAK. Kapal ini terus bergerak. Sehingga BUMN yang tidak cepat-cepat melakukan adopsi akan semakin ketinggalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s