Bagaimana saya menghabiskan Rp110 ribu untuk potong rambut?

14590517_10208934588655762_682868837665128852_n

Tipe pembeli ada dua yaitu rational buyer dan emotional buyer. Rational buyer adalah tipe orang yang sebelum membeli riset dulu, buat itung-itungan njlimet baru beli. Emotional buyer adalah tipe yang kalau sudah suka, tidak akan berpikir banyak langsung kalap beli. Tetapi bahkan pembeli yang paling rasional pun memiliki titik-titik emosional, dan kalau titik emosional itu disentuh maka drastis dia berubah jadi emotional buyer. Contohnya adalah kisah saya berikut.

Potong rambut bagi laki-laki sebelumnya adalah aktivitas rutin yang tidak begitu penting. Biasanya kita cari abang tukang cukur rambut yang mangkal dibawah pohon rindang bayar Rp5000, beres. Problemnya adalah banyak dari kita sekarang pulang kerja sore (baca : malam hari), sehingga abang-abang pangkas rambut sudah bubar. Kalau habis potong rambut malam hari kita juga ga pingin ribet keramas. Inilah pemicu munculnya banyak barber shop. Bayar 15.000 sd 20.000 gak papalah asal tahu beres.

Saya kasih tahu rahasia, kaum pria untuk urusan potong rambut adalah kaum yang setia. Setelah ketemu yang cocok dia bakal disitu terus. Sedikit keluar dari rutinitas tersebut, adalah ketika tempo hari tertarik mencoba BarberHood, barbershop baru didaerah Kadisoka, kurang lebih 2km dari Stadion Maguwo. Interior dan fasilitas tergolong wah untuk area tersebut. Saya berpikir pasti mahal nih.

Seperti biasa pas potong rambut saya wawancara mas nya. Trainingnya dimana,pengalamannya sudah dimana saja, dlsb (kayak wawancara kerja saja 🙂. Selanjutnya rutinitas potong rambut dimulai. Hal yang menarik perhatian saya adalah kursi potong yang sangat nyaman dan canggih. Alat-alatnya pun modelnya barubdan banyak yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Teknik potongnya pun OK, kelihatan klo mas nya potong rambut by training, bukan asal. Dalam hati, mati bakal mahal nih.

Mas nya selanjutnya nanya setelah dibilas, mukanya mau dikasih handuk hangat. Saya biasanya by default menolak tambahan-tambahan tadi. Prinsip saya seperti Air Asia, Amaris, dan Uber “Only pay what you use” terjemahan gampangnya kalau bisa murah dan enak, kenapa bayar mahal. Cuma kali itu syaraf rational buyer saya lagi mengendur dan saya iyakan. Setelah selesai bilas, dipijitin, diurut, disikat (lho)..kursi di baringkan, dan disitulah saya kaget. Ternyata kursi potong rambut ada fasilitas getar listrik dan saya berbaring sambil ditutupi handuk hangat. Dalam hati…mati ini pasti mahal banget.

Setelah semua upacara potong rambut selesai dan membutuhkan waktu 45 menit, saya disuguhi air dingin berkarbonansi. Biasanya saya juga gak mau minum. Tetapi proses 45 menit membuat haus. Nah, ini sampai pada area bayar membayar di loket. Barber itu tidak punya kasir khusus. Sudah pakai software (kalau belum biasa saya prospek buat jadi klien Syncore 😉). Saya ditawari didaftari jadi member dan minta nama, alamat dan nomer hape. Biasanya saya juga ga mau… hoiii kemana syaraf baja rational buyer pergi.

Terus, akhirnya saya nanya habis berapa mas. Total Rp35.000 . Senyum terkembang. Orang Jakarta pasti ketawa dengar harga itu. Alhamdulillah, tidak semahal yang dibayangkan. Duit di dompet masih cukup.

Lho, bentar-bentar kok judul diatas “bagaimana saya menghabiskan Rp110 ribu untuk potong rambut?” Inilah kelemahan mendasar para customer, yang disebut In Store Buying. Menurut riset 60% keputusan membeli ditentukan ketika orang di lokasi. Mas nya nanya, pak biasanya pakai minyak rambut apa ya. Saya ga mau sebut karena biasanya pakai minyak cem ceman (bercanda). Trus saya nanya, minyak rambut yang dia pakai tadi apa, karena belum pernah saya lihat. Oo ini pak, ini produk lokal, organik dan ada yang aroma kopi.

Mati.

14517616_10208934588855767_8723145237229418955_n

Tiga kata kunci tadi sukses mematikan sistem pertahanan rasional buying:

1. Produk lokal /UMKM
2. Organik
3. Kopi

Adalah tiga preferensi emotional buyer saya. Saya nanya harganya berapa mas. Rp75.000, … Saya beli mas satu.

Setelah saya cek , Pomade (Minyak Rambut ) merek Djum Wax. Oalah ternyata tidak hanya Gudeg Yu Djum, tetapi minyak rambut Djum Wax .. ndeso tetapi keren. Tempat produksinya saya baca Sitimulyo, Piyungan. Lha..

Pesen saya nih sebagai konsultan start up dan UMKM
1. Lupakan baliho besar-besar itu, fokus ke sasaran spesifik anda. Bidik lewat komunitas atau sosial media.

2. Didik karyawan anda untuk jadi marketer. Ingat 60% customer memutuskan beli di lokasi. Konversi potensi tersebur jadi real sales. Anda akan cepet kaya.

3. Story…story …story… gali apa yang menarik dari bisnis anda sehingga bisa diceritakan orang dan menjadi viral.

4. Saya kutip dari mas tukang pangkas rambut “barber memang banyak pak, tetapi sekarang yang penting servisnya. Di tempat langganan bapak kasih handuk hangat ndak? . Jitu.

5. Terakhir .. banyak berdoa sehingga ketemu endorser yang baik hati seperti yang nulis status ini.

Ok. Sori kalau kepanjangan. Salam Teger. #TerusBergerak #Teger simak terus Kejar UMKM OTS on the street, untuk sharing kisah UMKM naik kelas.

Silahkan share kalau sekiranya bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s