Asa itu mungkin ada di Desa ?

“Sore pak Rudy ….” seorang bapak yang masih muda menyapa di halaman balai desa Panggungharjo. Jam waktu itu telah menunjukkan pukul 15.30. Janji bertemu hari itu sebelumnya terpaksa di reschedule beberapa kali. Kantor Balai Desa sore itu masih ramai dengan tamu. Nampak ada bis terparkir membawa rombongan dari Papua yang sedang melakukan studi banding. “Ini kunjungan ke 304 selama saya menjabat”.

Panggunharjo memang tengah naik daun. Bapak muda yang menyapa saya di parkiran tersebut tidak lain tidak bukan adalah bapak Wahyudi Anggoro Hadi, Lurah Desa Panggungharjo yang baru saja memenangkan penghargaan lurah teladan di tingkat nasional. Dalam berbagai forum saya sudah sering dengar nama beliau, belum lama ini masuk dalam acara Kick Andy, dan sering menjadi narasumber dalam berbagai forum nasional. Pak Wahyudi sudah layak disebut ‘selebritis’, tetapi bapak lurah muda ini tetap santun, bersahaja dan merakyat seperti semula.


“Saya ini lelegan golek momongan (orang yang kurang kerjaan – red) mas. Seharusnya saya nyaman menjalani hidup sebagai seorang apoteker, tetapi garis hidup menuntun saya terjun mengurusi desa”. Obrolan sore tersebut dimulai dari pertanyaan mengapa Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) bisa maju dan berkembang, sedangkan banyak desa yang lain belum terbentuk, dan beberapa bahkan layu sebelum berkembang. Pembicaran pun kemudian mengalir ke banyak hal. Seperti dua orang teman lama yang bertemu kembali setelah lama berpisah.
 “Apa yang salah dengan desa? Karena selama ini kita tidak cukup memanusiakan manusia-manusia yang mengurusi desa. Saya punya juru tulis yang selama 25 tahun mengerjakan hal yang sama setiap hari. Tidak ada jenjang karir, tidak ada penilaian kinerja. Bagaimana anda bisa memotivasi orang-orang tersebut? Saya sadar saya harus membuat terobosan”. Selanjutnya Pak Lurah dengan fasih bicara masalah penganggaran partisipatif, proses politik yang bersih, dan tata kelola kelembagaan desa yang baik. “Kunci keberhasilan Panggungharjo adalah pada investasi pada peningkatan kapasitas manusia”.

Pembicaraan dengan cepat mengalir dan jam menunjukkan pukul 16.00. Satu per satu karyawan pulang. Hal yang cukup aneh kita temui di Balai Desa. Biasanya Balai Desa akan sepi menjelang pukul 14.00. Saya mengamati pamong-pamong desa dan karyawan a pulang dengan tersenyum.”Kami telah menerapkan penilaian kinerja dan penggajian berbasis kinerja. Mereka ada komitmen 160 jam per bulan. Apabila kurang dari jam tersebut insentif mereka di potong”. Beberapa yang pernah datang di kantor pelayanan Desa Panggungharjo berujar, ini bukan Kantor Balai Desa, pelayanan disini sudah mirip dengan Bank.
“Mas Rudy berapa kali ke Kantor Balai Desa?, dan saya pun hanya menjawab dengan tersenyum ” Ehmm lupa pak”. Pak Lurah meneruskan “Orang tahunya ke kantor balai desa untuk mengurus KTP, mau nikah, atau mau nikah lagi.  Padahal urusan kemasyarakatan banyak sekali. Ada hal yang terkait dengan masalah legal, waris, pembangunan dan pemeliharaan sarana-prasarana dan urusan-urusan lainnya. Tingkat partisipasi masyarakat yang rendah, karena kita kelembagaan di desa tidak efektif”. Bapak Lurah Muda ini dulunya kuliah di Farmasi UGM dan sempat menjadi Ketua Senat Mahasiswa. Wawasannya yang luas dalam organisasi modern dan pemberdayaan masyarakat menjadi bekal yang cukup dalam mengelola urusan-urusan yang ada di Desa. “Tantangan Lurah-Lurah sekarang berat mas, kalau mereka tidak tahu tentang pola perencanaan partisipatif, pola pengelolaan keuangan desa dan pemberdayaan masyarakat, mereka pasti dalam masalah besar”.

 

Pembicaraan pun beralih pada BUMDES Panggung Lestari. “Ayo mas kita lihat kantor BUMDES” , waktu itu sudah pukul 14.30, dan saya sudah mohon ijin, karena tidak enak dengan Pak Lurah yang sudah sejak pagi berdinas dan belum beristirahat. “O ga papa mas… saya biasa seperti ini”. Kami pun mendatangi BUMDES yang memiliki usaha pengelolaan sampah. Lewat kreatifitas Desa Panggungharjo, pengelolaan sampah ini bisa menjadi usaha yang menguntungkan dan berkelanjutan.
 “Ini mas anak-anak muda yang mengelola BUMDES, mereka semua masih muda dan memilih tetap tinggal di desa membangun desa” Banyak cerita sore itu, banyak rencana yang sudah disepakati. Mungkin betul seperti kata beberapa orang, ditengah hiruk pikuk politik di negara kita yang tidak pernah reda, mungkin asa itu ada di Desa. Apabila setiap Desa bisa seperti Panggungharjo maka Indonesia akan maju. Apabila setiap desa menjadi desa mandiri, maka Indonesia akan mandiri. Membangun Indonesia dari Desa. Mungkin sudah waktunya pejabat, birokrat, para ahli, untuk turun dan kembali belajar ke desa.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s